Makalah CAKUPAN DAN OBJEK FILSAFAT DITINJAU DARI BERBAGAI ASPEKNYA
CAKUPAN DAN OBJEK FILSAFAT
DITINJAU DARI BERBAGAI ASPEKNYA
MAKALAH
Diajukan Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Filsafat Ilmu
Oleh
:
EKO NOPRIYANSA
NIM.1911560015
Dosen Pengampuh :
Dr. Murkilim, M.Ag
PROGRAM PASCA SARJANA
PRODI AQIDAH DAN FILSAFAT ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BENGKULU
TAHUN 2020
BAB II
PEMBAHASAN
A. Metode Filsafat
Jika
kita menyoroti beberapa hasil penelitian maupun pandangan para peminat studi
filsafat, seperti upaya yang dilakukan oleh Soetriono dan Rita Hanafie,
nampaknya metode dalam skup pembahasan filsafat difahami sebagai suatu teknis,
yang disebut sebagai konsep metodologi.[1]Dalam
menyoroti rangkaian sejarah dan perdebatan dalam menyingkapi konsep metode
filsafat, Abdullah dalam publikasi jurnal Bestari mengatakan, bahwah metode
filsafat secara konteks sejarah, sempat mengalami pedebatan dalam lingkungan
peminat studi filsafat dunia. Beberapa rangkaian perdebatan yang dimaksud
Adullah, diantaranya adalah mencuatnya perdebatan filshuf Amerika yang
mendebat konsep metode filsafat eropa yang diklaim sebagai metode lama.[2]Lebih
jauh jika kita membandingkan pemikiran kontemporer, terhadap beberapa pemikiran
lama, nampaknya ada beberapa pergeseran penting yang terlihat sebagai
pembaharuan yang diselaraskan dengan perkembangan ilmu pengatahuan.
Nur. A. Fadhil
Lubis dalam tulisannya pengantar filsafat ilmu, lebih sfesifik mengungkapkan
bahwah secara etimologis, kata metode yang digunakan dalam ilmu filsafat ini
adalah “berasal dari bahasa yunani yaitu Methodos yang memiliki makna
kata Meta berarti melalui dan Hodos adalah jalan.”[3]Lebih
jauh Fadhil Lubis menjabarkan bahwah metode jika dipahami secara global
merupakan cara bertindak yang sesuai dengan system tertentu. Dari dua gambaran
sederhana tersebut, penulis berkeyakinan bahwah metode merupakan cara teknis
dengan menggunakan ketentuan yang tersistem. Dari beberapa tinjauan, tela’ah
dan analisis terhadap perkembangan konsep metode dalam ilmu filsafat, penulis
menyusun secara sistematis mengenai metode filsafat ditinjau dari berbagai
aspeknya dengan menggunakan sub point maupun dalam bentuk table sederhana yang
meliputi metode kritis hingga metode analisis bahasa.
Tabel. 1.1. Pengelompokan Metode Filsafat[4]
|
No
|
Jenis Metode Filsafat
|
Uraian dan Penjelasan
|
|
1
|
Metode Kritis
|
Metode kritis bersifat analisa istilah
dan pendapat, kemudian disistematiskan dalam hermeneutika yang menjelaskan
keyakinan dan berbagai pertentangannya.
|
|
2
|
Metode Intuitif
|
Tidak hanya terpaku pada
intelek dan rasionalisasi manusia, tetapi juga tidak bersifat
anti-intelektual.
|
|
3
|
Metode Skolastif
|
Metode Skolastik merupakan metode yang berkaitan erat dengan metode
mengajar.
|
|
4
|
Metode Matematis
|
Metode ini mengintegrasikan segala kelebihan logika, analisa geometris
dan aljabar dan menghindari kelemahannya.
|
|
5
|
Metode
Empiris Eksprimental
|
Metode ini membutuhkan
eksperimen yang ketat guna mendapatkan bukti kebenaran empiris yang sejati.
|
|
6
|
Metode Transedental
|
Metode ini menerima nilai obyektif ilmu-ilmu positif, sebab terbukti
telah menghasilkan kemajuan hidup sehari-hari. Ia juga menerima nilai
subyektif agama dan moral sebab memberikan kemajuan dan kebahagiaan.
|
|
7
|
Metode Dialegtis
|
Metode ini ialah pengiyaan dengan mengambil konsep atau pengertian
yang lazim diterima dan jelas.
|
|
8
|
Metode Fenomenalogis
|
Fenomena data sejauh disadari dan sejauh masuk dalam pemahaman.
|
|
9
|
Metode
Filsafat Eksistensialisme
|
Analisa eksistensi itu, memakai fenomenologi yang otentik, dengan
observasi dan analisa teliti.
|
|
10
|
Metode Analitika Bahasa
|
Metode ini menetapkan peraturan masing-masing bahasa agar tidak
terjadi kekeliruan logis dan kesalahpahaman yang disebabkan oleh kerancuan
makna kata.
|
B. Tujuan Filsafat
Menyoroti tujuan filsafat tidak bisa
lepas dari eksistensi dan posisi filsafat dalam ilmu pengatahuan. Jika kita
melihat filsafat secara Etimologi filsafat terdiri dari dua kata Philen
yang berarti cinta dan Sophia yang memiliki makna kebijaksanaan.[5]
Dua pertalian tersebut, menunjukan bahwah filsafat secara bahasa adalah cinta
kebijaksanaan. Lebih jauh jika kita melihat secara umum, nampaknya filsafat
diyakini sebagai “ilmu pengatahuan yang menyelidiki segala sesuatu untuk
memperoleh kebenaran.”[6]Beberapa
tinjauan literatur yang berupaya mengangkat tujuan filsafat adalah upaya yang
dilakukan Syahrul Kirom yang menjelaskan, bahwah secara umum tujuan filsafat
filsafat adalah upaya membangun teori teori tentang manusia dan alam semesta
sekaligus memeriksa secara kritis semua yang dapat disajikan sebagai landasan
bagi keyakinan maupun tindakan.[7]Dalam
rangkaian pembahasan ini, penulis akan menyajikan beberapa pandangan para ahlih
maupun peminat studi filsafat dalam menjelaskan tujuan filsafat kedalam tiga
fase perkembangan filsafat jika dilihat dari tujuannya yaitu tujuan filsafat ditinjau
dari fase awal, fase pertengahan dan fase akhir.
1.
Tujuan Filsafat Ditinjau Dari
Perkembangan Fase Awal
Dalam
konteks sejarah perkembangan filsafat dimasa awal, secara praktis tujuan
filsafat tertuju pada upaya mengungkapkan pertanyaan tentang alam yang
sebelumnya, pendekatan atau upaya yang digunakan terpaku pada mitologi, tokoh
tokoh filsafat Yunani seperti Thales, Anaximenes, Herakleitos, Phytagoras,
Leokippos hingga Empedokles secara praktis memposisikan filsafat sebagai upaya
yang bertujuan menjawab pertanyaan tentang alam semesta.[8]Senada
dengan itu jika kita mencermati beberapa tulisan akademisi seperti Universitas
Yogyakarta Negeri, dijelaskan bahwah pemikiran fhilsuf yunani secara praktis
adalah untuk mencari jawaban tentang misteri alam dan manusia yang masih
Abstrak.
2.
Tujuan Filsafat Ditinjau Dari Fase
Pertengahan.
Dalam
perkembangannya Tujuan filsafat pada abad pertengahan, lebih focus pada
filsafat skolistik atau pengajaran di sekolah, yang lebih tertata dalam bentuk
pengajaran pengajaran di suatu tempat khusus seperti pemanfaatan gareja
Gallilia Selatan.[9]Dalam
rangkaian sejarah filsafat abad pertengahan Afid Burhanuddin menulis bahwah
pada abad pertengahan ini kondisi kawasan yunani mengalami polemic hingga masuk
pada fase perkembangan filsafat eropa. Lebih jauh Afid mengungkapkan :
Filsafat Yunani mengalami kemegahan dan
kejayaan dengan hasil yang sangat gemilang, yaitu melahirkan peradaban Yunani.
Menurut pandangan sejarah filsafat, dikemukakan bahwa peradaban Yunani
merupakan titik tolak peradaban manusia di dunia. Maka pandangan sejarah
filsafat dikemukakan manusia di dunia. Giliran selanjutnya adalah warisan
peradaban Yunani jatuh ke tangan kekuasaan Romawi. Kekuasaan Romawi
memperlihatkan kebesaran dan kekuasaan hingga daratan Eropa (Britania), tidak
ketinggalan pula pemikiran filsafat Yunani juga ikut terbawa. Hal ini berkat
peran Caesar Augustus yang menciptakan masa kemasan kesusastraan Latin, kesian,
dan arsitektur Romawi. Setelah filsafat Yunani sampai ke daratan Eropa, di sana
mendapatkan lahan baru dalam petumbuhan. Karena bersamaan dengan agama kristen,
filsafat Yunani berintegrasi dengan agama Kristen, sehingga membentuk suatu
formasi baru. Maka, muncullah filsafat Eropa yang sesungguhnya sebagai
pejelmaan filsafat Yunani setelah berintegrasi dengan agama Kristen.[10]
Dari
tinjauan tersebut, dapat difahami bahwah kontestasi peran Filsafat Skolistik
pada abad pertengahan memiliki peran penting dalam peradaban bangsa yunani dan
romawi. Sehingga dalam sebuah analisis, penulis berasumsi dan berkeyakinan
bahwah pada abad pertengahan ini, filsafat dapat dikatakan focus pada tujuan
filsafat Skolistik yang menintegrasikan praktik pendidikan kedalam kondisi yang
lebih tertata dan tersistem. Adhyel dalam tulisannya mengungkapkan, bahwah tujuan
filsafat skolistik kala itu bisa dilihat dari berkembangnya ilmu pengatahuan
pada beberapa bidang, seperti Gramatika, Geomerti, Aritmatika dan music.[11]
3.
Tujuan Filsafat Ditinjau Pada
Perkembangan Era Modern dan Post Modern
Tujuan
filsafat pada sub poin ini adalah bisa kita lacak dari fase perkembangannya
yang menunjukan bahwah tujuan filsafat di era ini lebih tersistem dalam konsep
ilmu pengatahuan. Pada bahasan ini, beberapa penulis menguraikan beberapa nalar
yang menjelaskan tentang tujuan filsafat diera ini seperti upaya Anjar
Setianingsi dalam slide yang dibagikan mengungkapkan bahwah tujuan filsafat
secara umum adalah untuk mendalami unsur-unsur pokok ilmu, memahami sejarah
pertumbuhan, menjadi pedoman bagi praktisi akademik, menciptakan konsistensi para
ilmuan dan mempertegas bahwah tidak ada pertentangan antara ilmu pengatahuan
dan Agama.[12]
C. Objek dan Signifikansi Filsafat
Kata signifikan dalam pengertian
umum yang dimasukan kedalam daftar kamus bahasa Indonesia, bermakna kondisi
atau keadaan yang sangat berarti.[13]Muhammad
Afizal dalam membicarakan korelasi Agama dan filsafat, menjelaskan bahwah
secara umum objek filsafat adalah fisik dan Metafisik. Dalam kajian dan studi
filsafat Agama, objek yang lebih banyak dibicarakan adalah metafisik.[14]bergeser
lebih jauh lagi jika kita meninjau beberapa catatan literature studi filsafat
dikatakan, bahwah nilai-nilai penting yang terdapat pada filsafat dapat melatih
manusia untuk berfikir kritis, memperluas cakrawala pemikiran dan pandangan
hingga membuat manusia lebih taat kepada tuhan yang maha Esa. Untuk
penyederhanaan dibawah ini penulis berupaya menyusun signifikansi atau arti
penting filsafat yang disusun kedalam bentuk table sederhana.
1.2. Tabel Signifikansi Filsafat[15]
|
No
|
Signifikansi dan Arti Penting Filsafat
|
|
1
|
Melatih
diri untuk berfikir kritis dan runtut serta menyusun hasil pemikiran tersebut
secara sistematis
|
|
2
|
Menambah
pandangan dan cakrawala yang lebih luas agar tidak berfikir sempit dan
tertutup.
|
|
3
|
Melati
diri melakukan penelitian, pengkajian dan memutuskan atau mengambil
kesimpulan mengenai suatu hal secara mendalam dn komprehensif.
|
|
4
|
Menjadikan
diri bersifat dinamis dan terbuka dalam menghadapi berbagai problem.
|
|
5
|
Membuat diri menjadi manusia yang penuh toleransi dan
tenggang rasa.
|
|
6
|
Menjadi
alat yang berguna bagi manusia baik untuk kepentingan pribadi maupun dalam
hubungan sosial.
|
|
7
|
Menyadari
akan kedudukan manusia aik sebagai priadi maupun hubungan dengan orang lain,
alam sekitar dan kepada Tuhan.
|
|
8
|
Menjadikan manusia lebih taat kepada Tuhan.
|
Dari
uraian tersebut, dapat dipahami bahwah filsafat merupakan alat penting dalam
kehidupan dan nilai-nilai yang terkandung dalam filsafat adalah bertujuan untuk
menjadikan manusia memiliki karakter yang rasional, objektif, hingga religius.
Secara umum, signifikansi yang penulis sajikan sebelumnya adalah hasil temuan
terhadap beberapa analisis data melalui berbagai tinjauan kepustakaan dan
tulisan-tulisan yang sudah ada sebelumnya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian beberapa pokok permasalahan yang penulis paparkan
sebelumnya dapat disimpulkan bahwah objek dan cakupan filsafat baik menyangkut
metode, tujuan hingga signifikansi dapat disederhanakan kedalam beberapa point
penting, antara lain :
Pertama,
dalam menyingkapi konsep metode dalam filsafat berdasarkan hasil tela’ah
literature dan studi kepustakaan kami menemukan tidak kurang sepuluh metode
yang dikenal dalam studi filsafat yaitu metode kritis, Intuitif, Skolasif,
Matematis, Empiris, Transdental, dialegtis, fenomenalogis, Eksistensialisme dan
analis bahasa.
Kedua,
tujuan filsafat yang penulis temukan dalam langkah-langkah penyusunan makalah
ini secara sistematis, penulis meninjau secara seksama tujuan filsafat
berdasarkan sejarah dan perkembangannya yaitu tujuan filsafat jika di lihat
dalam perspektif fase awal filsafat, tujuan filsafat hanya sebagai upaya
mencari jawaban terhadap alam. Dalam perkembangan fase pada abad pertengahan,
secara praktik dan teknis filsafat bertujuan untuk mensistemkan filsafat yang
dikenal sebagai filsafat Skolatis, dan yang terakhir tujuan filsafat
berdasarkan perkembangannya di era modern hingga post modern filsafat bertujuan
untuk mendalami unsur-unsur pokok ilmu, memahami sejarah pertumbuhan, menjadi
pedoman bagi praktisi akademik, menciptakan konsistensi para ilmuan dan
mempertegas bahwah tidak ada pertentangan antara ilmu pengatahuan dan Agama
Ketiga,
Signifikansi atau arti penting filsafat meliputi upaya untuk melatih diri agar
berfikir kritis, memperluas cakrawala pemikiran, menjadikan diri bersifat
dinamis hingga menjadikan manusia agar lebih taat kepada Tuhan.
B. Saran
Adapun saran secara pribadi, tentunya saya mengharapkan agar kiranya
tulisan ini mendapatkan respon positif khususnya rekan rekan mahasiswa guna menghasilkan
bahan diskusi yang lebih luas dan komprohensif dengan argumentasi dan landasan
yang lebih relevan, saran dari semua pihak terkhusus arahan dari dosen
pengampuh yang membidangi betul terhadap permasalahan yang diangkat dalam
makalah ini.
[1]Soetriono.
2007. “Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian”. Penerbit andi,
Yogyakarta, hlm. 74.
[2]Abdullah.
1991. “Metode Filsafat”. Bestari Agustus-Oktoer 1991, hlm.58.
[3]Fadhil
Lubis. 2015. “Pengantar Filsafat”. Perdana Publishing, Medan, hlm. 17.
[4]Gamal
Thabroni, “Metode Filsafat Contoh dan Penjelasan Lengkap”. https://serupa.id/metode-filsafat-10-contoh-penjelasan-lengkap/
(Diakses Tanggal 16 April 2020 Pkl, 15.01 WIB).
[5]Soetriono.
2007. “Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian”. Penerbit andi,
Yogyakarta, hlm. 20.
[6]Soetriono.
2007. “Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian”. Penerbit andi,
Yogyakarta, hlm. 20.
[7]Syahrul
Kirom. 2011. “Filsafat Ilmu dan Arah Pengembangan Pancasila: Relevansinya Dalam
Mengatasi Persolan Kebangsaan.” Jurnal Filsafat Vol.21, Nomor 2, hlm.
100.
[8]Anna
Poedjiadi. “Modul 1 Pengertian Filsafat”. http://repository.ut.ac.id/4144/1/IDIK4006-M1.pdf (Diakses pada tanggal 16 April 2020 Pkl 15.47
WIB). Hlm. 1-29.
[9]Afid
Burhanuddin 2013. “Filsafat Ilmu Pada Abad Pertengahan”. https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/09/23/filsafat-abad-pertengahan/ (Diakses Pada Tanggal 16 April 2020 Pkl. 16.06 WIB).
[10]Afid
Burhanuddin 2013. “Filsafat Ilmu Pada Abad Pertengahan”. https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/09/23/filsafat-abad-pertengahan/ (Diakses Pada Tanggal 16 April 2020 Pkl. 16.06 WIB).
[11]Adhyel.
“Zaman Yunani Kuno, Abad Pertengahan, Abad Modern, Abad Post Modern”. https://www.wattpad.com/19095473-zaman-yunani-kuno-abad-pertengahan-abad-modern-dan (Diakses pada tanggal 16 April 2020 Pkl 16.8
WIB).
[12]Anjar
Setianingsi. “Pengertian dan Tujuan Filsafat”. https://www.slideshare.net/agoespsoegiarto/pengertian-dan-tujuan-filsafat-ilmu-pertemuan-2
(Diakses pada tanggal 16 April 2020 Pkl
16.8 WIB).
[13]Imam
Taufik. 2010. “Kamus Praktis Bahasa Indonesia.” Ganeca, Jakarta,
hlm.980.
[14]Muhammad
Afrizal. “Filsafat Agama”. https://sites.google.com/site/afrizalmansur/filsafat-agama
(Diakses pada tanggal 16 April 2020 Pkl 18.05 WIB).
[15]Soetriono.
2007. “Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian”. Penerbit andi,
Yogyakarta, hlm. 24-25.

Komentar
Posting Komentar